Rabu, 18 November 2009

Karangan Lebaran(Tugas Bhs Indonesia)

Mencari Sinyal Handphone Dikampung Halaman

Lebaranpun hampir tiba. Saya beserta kluarga bersiap-siap untuk melaksanakan tradisi yang hanya ada di negeri kita tercinta ini yaitu Indonesia. Nama tradisi ini adalah MUDIK. Mudik adalah tradisi orang Indonesia dimana orang-orang berduyun-duyun pergi kekampung halaman. Biasa orang yang melakukan mudik adalah para perantau yang mencari kerja di kota-kota besar, seperti ibu kota kita Jakarta. Banyak warga Jakarta yang melakukan tradisi mudik ini. Biasanya tradisi mudik ini hanya ada di bulan Ramadhan. Dan mudik biasanya terjadi pada saat bulan ramadhan akan berakhir atau mendekati lebaran.
Itu lah sekilas tentang pengertian tentang lebaran. Pada nuansa mudik tahun ini alhamdulilah saya beserta keluarga melaksanakan tradisi mudik ini. Kira-kira empat hari sebelum lebaran tiba saya beserta keluarga bersiap-siap mempacking barang-barang yang akan dibawa untuk mudik. Saya berencana berangkat dari kediaman malam hari. Karena sepeti tahun-tahun yang lalu, bila kita berangkat siang hari kita akan terjebak macet dan banyaknya pemudik menggunakan sepeda motor menjadi pemikiran saya untuk berangkat pada malam hari.



Kira-kira pukul 20.30 setelah sholat Tarawih saya berangkat dari kediaman saya, pada saat itu saya melaksanakan tradisi mudik ini dengan menggunakan mobil. Dan tujuan mudik saya saat ini adalah kota Semarang yang lebih khususnya kota Ambarawa. Jarak dari Jakarta sampai Semarang kira-kira mencapai 400km lebih, dan dalam waktu lebaran ini biasanya dapat ditempuh dengan waktu 12 jam. Setelah saya berangkat dari kediaman saya tanpa terasa mobil melaju dengan kecepatan 120km/jam didalam jalan bebas hambatan(Tol) menuju ke pintu gerbang Tol Cikampek. Saya memperkirakan akan terjadi kemacetan disekitar pintu gerbang Tol. Karena empat hari sebelum lebaran berbarengan dengan libur cuti para pegawai.
Ternyata saya salah memperkirakan 10km menuju gerbang Tol, masih terlihat lengang belum terlihat terjadinya kemacetan. Begitu juga 5km menuju masih belum terjadi penumpukan kendaraan. Dan Alhamdulillah saya hanya terkena macet di 2km sebelum gerbang Tol. Berati saya hanya terkena macet sekitar 30menit di Tol Cikampek.
Setelah melewati gerbang Tol Cikampek saya langsung membanting setir ke arah kiri menuju Cirebon. Sempat terjadi pengalihan arah, tapi itu tidak terasa, karena memang volume kendaraan pada saat itu sangat sedikit. Tidak tampak ramai seperti yang saya perkirakan. Begitu juga para pemudik yang menggunakan sepeda motor, masih terlihat sedikit sekali. Dengan sedikitnya volume kendaraan saya bisa memacu mobil saya dengan nyaman.
Cirebon-pun terlewati jarak menuju kota Semarang semakin dekat. Selama perjalanan belum menemukan macet yang memakan waktu lama. Paling-paling kemacetan hanya terjadi karena adanya pasar tumpah yang hanya memakan waktu sekitar 15menit untuk melewatinya.
Entah didaerah mana. Saya melihat ada tempat yang dinamakan “pasar jodoh”. Dan memang benar ditempat tersebut ramai sekali dipenuhi oleh para pemuda-pemuda yang ingin mencari jodoh. Menurut cerita yang saya dengan “pasar jodoh” itu, adalah tempat dimana kita bebas berkenalan dan bertegur sapa terhadap lawan jenis. Saya tidak tau cerita selanjutnya seperti apa. Disana saya hanya melihat memandangan “pasar jodoh” tersebut dari dalam mobil.
Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 04.00 dan tujuanpun hampir sampai. Kira-kira tinggal 30menit saya di kampung halaman saya yang pertama yaitu Ambarawa. Kurang lebih jam 04.45 saya berserta keluarga sampai juga dikampung halaman. Sesampainya disana saya beserta keluarga langsung disambut hangat dengan keluarga-keluarga saya yang lain. Nuansa “Jawa” langsung terasa kental sekali, dengan bahasa dan logat yang jawa sekali, sampai-sampai keramahan-keramahan yang dibelikan sangat kental sekali terasa.
Setelah bertegur sapa dengan sanak saudara di Ambarawa, waktunya untuk beristirahat melepas keletihan selama delapan jam diperjalanan tadi. Setelah beristirahat, siang harinya saya beserta keluarga disambut dengan makanan khas Ambarawa yaitu “Tahu Campur”. Tahu Campur adalah salah satu makanan khas asal Ambarawa, disebut tahu campur karena memang isi pokonya adalah tahu. Isi dari tahu campur tersebut adalah tahu, tempe, bakwan, dan lontong. Dan bumbunya atau kuahnya entah apa racikan yang dibuat tetapi ketal terasa sekali kalo bumbu dasarnya adalah kacang.
Makan siang beserta keluarga besarpun selesai, saya beserta keluarga merencanakan “kapan kita berangkat ke pacitan?”.
Pacitan adalah kota yang berada didaerah Jawa Timur, yang sangat terkenal sekali dengan sebutan “Kota Seribu Goa”, dan juga pacitan terkenal dengan keindahan pantainya. Pacitan adalah tujuan mudik saya berikutnya. Tidak berlama-lama di Ambarawa, kira-kira satu hari bermalam di Ambarawa saya beserta keluarga langsung berangkat menuju Pacitan, karena orang tua saya menginginkan melakukan sholat Idul Fitri di Pacitan tersebut.
Perjalanan dimulai sekitar jam delapan siang, entah berapa jarak yang ditempuh dari Ambarawa sampai ke Pacitan, tetapi menurut pengalaman dari tahun-tahun yang lalu perjalanan dari Ambarawa menuju Pacitan memakan waktu kira-kira 7-9 jam. Cepat cerita saya sudah di daerah Wonogiri tandanya perjalanan ekstrim akan segera dimulai. Kenapa disebut perjalanan ekstrim? Karena mulai dari Wonogiri medan perjalanan mulai berkelok-kelok dan naik-turun menjelajah perbukitan dan pergunungan. Yang membuat “Autis” selama perjalanan menuju pacitan adalah tidak adanya sinyal pada HP saya. Bukan salah HP saya, melainkan memang disana belum terjangkau sinyal-sinyal HP. Sungguh membuat kaum pemuda-pemuda yang terbiasa membuat hidup dikota-kota besar menjadi “autis” setelah memasukin wilayah ini. Cepat cerita sinyal HP udah tidak dapat dan saya sudah tiba di tempat tujuan. Oiya.. sekilas cerita perkampunyan saya terletak benar-benar didalam pegunungan dan yang membuat makin terasa bawah itu adalah sebuah “perkampungan” adalah lokasi yang benar-benar diapit oleh kedua gunung yang saling berhadapan. Bayangkan bagaimana sinyal-sinyal bisa masuk kalau tertutup oleh dua gunung.
Lanjut cerita setiba sapa dikampung halaman saya langsung berjalan menuju nenek saya dan “sungkem” ke nenek saya. Setelah “sungkem” saya langsung menuju ke saudara-saudara yang lain untuk bersilahturahmi. Lagi-lagi sangat terasa ketal sekali nuasa “jawa” yang didapat. Cara penyambutan, cara bertegur sapa, cara mengobrol, dan yang membuat saya berfikir mereka saling mengenal tetangga yang satu dengan tetangga yang lain, padahal jarak mereka bisa sampai 1km, 2km, bahkan sampai 1gunung. Bayangkan kekerabatan yang sangat kental bukan?.
Meskipun disana saya sangat merasa “autis” karena tidak bisa SMS atau telepon ke teman-teman saya. Tapi saya merasakan nuansa yang sangat berbeda sekali dari kehidupan di kota Jakarta. Nuasa yang saya bilang berbeda adalah suasana disana benar-benar sangat indah, sangat sejuk udaranya, dan dipagi hari masih banyak terdengar kicau-kicau suara burung dan masih banyak lagi keindahan-keindahan yang tidak didapat dikota Jakarta.
Cepat cerita telah tiba waktu Idul Fitri, waktu dimana kita saling memaaf-maafkan kesalahan yang telah kita perbuat, baik yang disengaja maupun tidak sisengaja. Lebaranpun dimulai berkeliling-keliling kerumah saudara-saudara.
Lebaran selesai saya bersiap-siap untuk pulang ke rumah saya di Jakarta. Setelah selesai mempacking barang, saya langsung berangkat pulang dengan cepat.dengan tujuan segera mendapat sinyal HP lagi. Setelah diperjalanan sebelum langsung pulang menuju Jakarta saya menyempatkan kembali singgah di Ambarawa, sekedar beristirahat beberapa jam dan langsung melanjutkan lagi pejalanan pulang. Dan diperjalanan tidak terjadi kemacetan yang berarti. Setelah menempuh perjalanan yang panjang Alhamdulillah akhirnya sampai dirumah tercinta.
Sekian cerita dari kisah mudik saya pada tahun ini. Begitu cepat tetapi mempunyai kesan yang mendalam selama perjalanan, tempat menuju tempat. Sungguh mempunyai makna tersendiri yang didapat.


0 komentar:

Poskan Komentar